Boleh Tidak Sholat Menggunakan Masker?

Hukum Penggunaan Masker Dalam Sholat

Assalamualaikum wr wb

Pasti banyak diantara kalian yang bertanya-tanya mengenai apakah boleh sholat menggunakan masker? Bagaimana hukumnya? Terus sholat menggunakan masker apakah sah atau tidak? Berikut adalah penjelasan yang dirangkum dari beberapa sumber, mari simak penjelasan dibawah ini.

Baca juga : “Sholat Taubat : Niat, Doa, Dan Keuatamaannya.”

Pengertian Sholat dan Masker

Sholat merupakan ibadah wajib bagi setiap muslim yang sudah baligh. Dalam sholat ada beberapa rukun sholat yang harus dijalankan secara teratur serta tertib yakni niat, berdiri bagi yang mampu, membaca takbiratul ikhram, membaca surat Al-Fatihah setiap rakaatnya, ruku’, iktidal, serta sujud secara tuma’ninah, duduk antara dua sujud, duduk tasyahud akhir, bersholawat kepada Nabi, membaca salam, tertib. Selain rukun ada juga syarat wajib dan sah sholat berikut adalah syarat wajib sholat yakni beragama Islam, berakal, baligh, paham mengenai hukum serta tata cara sholat, suci dari hadast besar maupun kecil, sadar. Adapun untuk syarat sah sholat adalah sebagai berikut telah memasuki waktu sholat, menghadap kiblat, suci dari hadast besar maupun kecil, menutup aurot, paham tentang cara melaksanakan sholat.

Sedangkan masker merupakan penutup kepala yang banyak manfaatnya terutama banyak digunakan oleh penduduk daerah perkotaan pada saat cuaca berdebu, saat menaiki kendaraan bermotor, maupun saat dalam keadaan sakit. Namun seperti topik pembahasan diatas yakni bolehkah menggunakan masker saat sholat?

Menggunakan masker merupakan suatu kegiatan yang menutup hidung. Sedangkan menurut sebagian ulama hitung merupakan bagian tubuh yang harus menempel ke tanah/bumi. Sedangkan menurut mayoritas para ulama jidat saja sudah cukup, namun Imam Asy Syafi’iy berkata bahwa wajib untuk menempelkan hidung serta jidat sekaligus, sebagaimana keterangan Al Hafish Ibnu Hajar dalam Fathul Bari yakni:

وَنَقَلَ اِبْن الْمُنْذِرِ إِجْمَاع الصَّحَابَة عَلَى أَنَّهُ لَا يُجْزِئ السُّجُود عَلَى الْأَنْف وَحْده ، وَذَهَبَ الْجُمْهُور إِلَى أَنَّهُ يُجْزِئُ عَلَى الْجَبْهَة وَحْدهَا ، وَعَنْ الْأَوْزَاعِيِّ وَأَحْمَد وَإِسْحَاق وَابْن حَبِيب مِنْ الْمَالِكِيَّة وَغَيْرهمْ يَجِب أَنْ يَجْمَعهُمَا وَهُوَ قَوْلٌ لِلشَّافِعِيِّ أَيْضًا

Artinya:

“Dikutip dari Ibnul Mundzir adanya ijma’ (kesepakatan) sahabat nabi bahwa menempelkan hidung saja tidaklah cukup ketika sujud. Sedangkan jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa menempelkan jidat saja sudah cukup. Sedangkan dari Al Auza’i, Ahmad, Ishaq, Ibnu Habib dari kalangan  Malikiyah dan selain mereka mewajibkan menggabungkan antara jidat dan hidung. Ini juga pendapat Asy Syafi’i.” (Fathul Bari, 3/204)

Hukumnya Makruh

Sholat menggunakan masker hukumnya makruh menurut para ulama, seperti Syaikh Sayyid Sabiq menyatakan bahwa hal tersebut termasuk hal yang makruh dalam sholat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عن أبي هريرة قال:  نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن السدل في الصلاة، وأن يغطي الرجل فاه

Artinya:

“Dari Abu Hurairah, katanya: “Rasulullah ﷺ melarang menjulurkan kain ke bawah ketika shalat dan seseorang menutup mulutnya.” (HR.  Abu Daud No. 643, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra,  No. 3125, Ibnu Khuzaimah No. 772,  dan Al Hakim No. 631, katanya shahih sesuai syarat  Bukhari dan Muslim)

Namun apabila penggunaan masker dikarenakan adanya uzur Syar’iy seperti sakit maka tidak apa-apa jika menggunakan masker dalam sholat. Seperti pendapat Syaikh Abdurrahman As Suhaim menjelaskan:

وقد نصّ الفقهاء على كراهية تغطية الوجه في الصلاة لِغير حاجة ؛ لِوُرود النهي عن تغطية الفم ، ولكون الوجه يُباشر الأرض .

 Artinya:

“Para fuqaha mengatakan makruhnya menutup wajah saat shalat TANPA kebutuhan.”

Hilangnya makruh disini juga berdasarkan kaidah syar’iyah:

الكراهة تندفع مع وجود الحاجة

Artinya:

“Makruh itu tertahan bersamaan dengan adanya keperluan/kebutuhan.”

(Hanya Allah Yang Mengetahui.)

Demikian penjelasan mengenai “Boleh Tidak Sholat Menggunakan Masker?” semoga bisa membantu serta menambah wawasan kalian. Sekian terima kasih.

Wassalamualaikum wr wb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *